Pages

Minggu, 16 Maret 2014



Gunung Cikuray "Pendakian Dengkul Ketemu Dada"



Gunung Cikuray merupakan salah satu gunung yang terdapat di Kabupaten Garut yang memiliki ketinggian 2845 mdpl yang merupakan tanah tertinggi di kabupaten yang berjuluk Swiss Van Java ini. Bentuk yang hampir menyerupai kerucut sempurna jika dilihat dari pusat kota garut, sudah cukup untuk membuat darah para petulalang berdesir untuk segera mengunjunginya. Disekitar gunung ini pun mempunyai banyak panorama alam yang sangat indah dan layak untuk kita kunjungi.


Untuk mencapai trek awal pendakian Gunung Cikuray kita harus menuju pos Pemancar yang ada di tengah perkebunan teh di daerah Cilawu, Garut. Opsi pertama, Kita bisa naik angkot dengan jurusan Cilawu dan turun di pertigaan Kebun Teh. Bilang saja ke sopir angkot pasti mereka sudah paham. Dari pertigaan kita bisa menaiki ojek hingga pos pemancar di kaki gunung Cikuray.

Catatan : Untuk menuju pos pemancar dengan mencarter kendaraan, alangkah baiknya mencari kenalan kendaraan yang benar benar sanggup mengantarkan ke pos pemancar. Jangan terlalu mudah percaya dengan tawaran calo angkot di Terminal Guntur. Atau bisa PM saya saja untuk info kontak carter kendaraan yang dapat dipercaya.

 ·                     Bis Jakarta - Garut: Primajasa Rp 35.000, turun terminal Guntur.
·                     Angkutan Terminal Guntur - Cilawu (daerah kaki gunung Cikuray): Carter angkot Rp 150.000, per orang biasanya Rp 7000 - Rp 15.000
·                     Dari Cilawu ke pemancar (awal mula pendakian): ojek per orang Rp 30.000, truk carter per orang Rp 20.000, angkot carter per orang Rp 10.000 cuma sampai pos penjagaan. Jalan kaki lebih baik lewat Dayeuhmanggung, karena lebih cepat dan tidak lewat pos penjagaan yang mengharuskan bayar dan birokrasi ribet. Hehe.
·                     Sampai pemancar, tinggal berdoa dan naik. Dan air tidak ada di sepanjang jalur sampai puncak, jadi cobalah untuk membawa air secukupnya sejak dari pemancar.
Have a good trip, mates! :)

Gunung Cikuray merupakan salah satu gunung yang terdapat di Kabupaten Garut yang memiliki ketinggian 2845 mdpl yang merupakan tanah tertinggi di kabupaten yang berjuluk Swiss Van Java ini. Bentuk yang hampir menyerupai kerucut sempurna jika dilihat dari pusat kota garut, sudah cukup untuk membuat darah para petulalang berdesir untuk segera mengunjunginya. Disekitar gunung ini pun mempunyai banyak panorama alam yang sangat indah dan layak untuk kita kunjungi.


Untuk mencapai trek awal pendakian Gunung Cikuray kita harus menuju pos Pemancar yang ada di tengah perkebunan teh di daerah Cilawu, Garut. Opsi pertama, Kita bisa naik angkot dengan jurusan Cilawu dan turun di pertigaan Kebun Teh. Bilang saja ke sopir angkot pasti mereka sudah paham. Dari pertigaan kita bisa menaiki ojek hingga pos pemancar di kaki gunung Cikuray.

Catatan : Untuk menuju pos pemancar dengan mencarter kendaraan, alangkah baiknya mencari kenalan kendaraan yang benar benar sanggup mengantarkan ke pos pemancar. Jangan terlalu mudah percaya dengan tawaran calo angkot di Terminal Guntur. Atau bisa PM saya saja untuk info kontak carter kendaraan yang dapat dipercaya.


Baru sampe pemancar saja kami semua sudah cukup kelelahan pikirku. Bagaimana jika nanti kita melewati trek sesungguhnya mendaki gunung Cikuray ini ??, semoga kita semua diberi kekuatan dan kelancaran. Kira kira tepat pukul 10 pagi melangkah ke jalur utama pendakian. Trek pertama membelah perkebunan teh yang kemudian jalan akan bercabang 2. Pilihlah arah kanan karena jika mengambil arah kiri maka kita akan melewati perkebunan dengan trek yang lebih terjal dan mungkin pun kita bisa tersesat diantara ladang penduduk. Selepas ladang kita masuk di batas hutan. Trek dari sini mulai menanjak dengan kondisi yang licin apabila hujan sedang mengguyur. Dari sini kita semua sudah tampak kelelahan, berjalan perlahan lahan dengan sisa semangat yang telah dihancurkan oleh angkot laknat.
Akhirnya kita tiba di pos 1 setelah berjalan kurang lebih 60 menit. Kita disini sempatkan untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Setelah dirasa cukup kami pun melangkah kembali, kali ini trek semakin menantang dengan tanjakan tanjakan yang cukup membuat dengkul kendor. Beberapa kali beristirahat untuk memulihkan tenaga. Berjalan hampit 60 menit kami tiba di Pos 2.
 Di pos 2 ini terdapat pipa air yang bisa digunakan oleh para pendaki. Selepas pos 2 trek tetap di bawah kanopi pohon pohon besar sehingga tak perlu takut kulit hitam terpapar sinar matahari, hehehe. Trek juga semakin aduhai dengan kemiringan yang lebih ekstrim. Terkadang kita pun harus semi reppeling dengan berpegangan akar akar pohon yang menjuntai untuk terus bergerak maju, bahkan kalo saya bisa menyebutnya dengan trek 3D (Dengkul ketemu dada ketemu dagu). Kami pun 

semakin banyak beristirahat di trek yang kejam ini, 10 langkah berjalan 10 menit beristirahat. Bahkan si Ika dan Abi sangat sering tiduran di tengah jalur, bahkan bagi para pendaki mungkin mereka ini bagaikan polisi tidur di tengah jalur, hahaha.

 kanopi pohon pohon besar sehingga tak perlu takut kulit hitam terpapar sinar matahari, hehehe. Trek juga semakin aduhai dengan kemiringan yang lebih ekstrim. Terkadang kita pun harus semi reppeling dengan berpegangan akar akar pohon yang menjuntai untuk terus bergerak maju, bahkan kalo saya bisa menyebutnya dengan trek 3D (Dengkul ketemu dada ketemu dagu). Kami pun m

90 menit berjalan kami akhirnya tiba di
pos 3. Pos yang tidak terlalu lebar tapi bisa digunakan untuk mendirikan beberapa tenda. Kami tetap melanjutkan perjalanan karena tujuan kami awal adalah puncak. Karena hanya puncak Cikuray yang terdapat banyak spot untuk mendirikan tenda. Berhubung kami membawa banya anggota akhirnya diputuskan untuk para porter kulkas yang membawa tenda untuk segera melangkah cepat dan mendirikan tenda dipuncak. Karena kaki saya tidak kuat berjalan cepat akhirnya saya lebih memilih untuk mencari alibi menemani anggota wanita dengan menjadi penyapu ranjau di belakang, hahaha. Tim kaki dewa pun melesat jauh meninggalkan kami tim kaki


polio. Ditengah perjalanan kami sempatkan untuk memasak mie instan tepatnya di pos 4. Perut yang berbunyi dan kaki yang lemas kehilangan tenaga sudah tidak dapat ditolerir.

tidak kuat berjalan cepat akhirnya saya lebih memilih untuk mencari alibi menemani anggota wanita dengan menjadi penyapu ranjau di belakang, hahaha. Tim kaki dewa pun melesat jauh meninggalkan kami tim kaki  dengan berpegangan akar akar pohon yang menjuntai untuk terus bergerak maju, bahkan kalo saya bisa menyebutnya dengan trek 3D (Dengkul ketemu dada ketemu dagu).



0 komentar:

Posting Komentar

 

cerita dari teman

Jalur Pendakian Gunung Lawu Gunung Lawu (3.265 m) berdiri kokoh diperbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, banyak menyimpan sejuta misteri dan legenda. Dalam legenda Gunung Lawu dipercayai sebagai tempat bertapanya Raden Brawijaya atau dikenal dengan Sunan Lawu setelah mengundurkan diri dari kerajaan Majapahit, dan beliau dipercaya sebagai penguasa seluruh makhluk yang ada di Gunung Lawu. Gunung Lawu juga mempunyai kawah yang namanya sangat terkenal yakni Kawah Condrodimuko, yang dipercaya masyarakat sekitar sebagai tempat menggodok tokoh pewayangan yaitu Raden Gatutkaca, salah satu dari Pandawa Lima. Di gunung ini juga banyak tempat-tempat keramat antara lain Sendang Drajat, Argo Dalem, Argo Dumilah, Pasar Dieng, Batu Tugu "Punden Berundak", Lumbung Selayur, Telaga Kuning dan masih banyak lagi. Gunung ini juga ditumbuhi bunga Edelweis berwarna merah muda, kuning dan putih. Gunung Lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi. Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas. Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani. Desa Cemoro Sewu maupun dukuh Cemoro kandang yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer merupakan gerbang pendakian ke puncak Lawu atau lebih dikenal dengan nama Argo Dumilah, letaknya berada tidak jauh dari kota dan dilintasi oleh jalan raya tertinggi di pulau Jawa yaitu sekitar 1.878 meter dari permukaan air laut. Karena letaknya yang mudah dijangkau, Gunung Lawu ini banyak dikunjungi pendaki pada Minggu dan hari-hari libur. Bahkan pada bulan Suro (Tahun Baru menurut penanggalan Jawa), kita akan menemui bahwa mereka yang mendaki bukan saja untuk ke puncak gunung Lawu, tetapi juga banyak diantaranya adalah peziarah, pertapa dan berbagai tujuan lainnya. Kedua daerah gerbang pendakian tersebut merupakan daerah berbentuk saddle antara daerah tujuan wisata Sarangan yang terkenal dengan danaunya dan Tawangmangu dengan air terjunnya. Kedua jalur Selatan ini adalah yang paling banyak dilalui karena jalurnya mudah dan pemandangannya sangat indah. Untuk mencapai daerah ini. Dari arah Surabaya menuju Madiun diteruskan ke Magetan dengan bus, kemudian naik colt menuju Sarangan (1.286 m.dpl), dari sini kita naik colt jurusan Tawangmangu turun di Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang. Kalau dari arah Solo, kita naik bus menuju Tawangmangu (1.000 m.dpl), lalu naik colt jurusan Sarangan berhenti di Cemoro Kandang atau Cemoro Sewu. Angkutan umum/colt dari Tawangmangu ke Sarangan atau arah sebaliknya agak sulit ditemui mulai pukul 16.00 wib. Segala fasilitas umum antara lain hotel, wartel yang paling dekat adalah di daerah wisata Sarangan terletak 5 kilometer dari Cemoro Sewu atau di Tawangmangu yang juga merupakan tempat wisata. Walau demikian, kita dapat menginap dirumah-rumah penduduk. Kita juga bisa memenuhi kebutuhan logistik tambahan untuk pendakian di warung-warung yang ada di desa gerbang pendakian ini. Gerbang Jawa Timur ,lewat Desa Cemoro Sewu Desa Cemoro Sewu (1.800 m dpl) kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan merupakan gerbang pendakian dari jalur Jawa Timur adalah daerah yang sangat subur. Daerah yang dihuni 20 keluarga dengan mata pencaharian utama adalah bertani ini tampak hijau, bersih sehingga menyejukkan mata yang melihatnya. Penduduknya sangat rukun, suka gotong-royong, ramah terhadap para pendatang dan sangat peduli terhadap kebersihan lingkunganya, ini terbukti dengan didapatnya tropi Jawa Timur tahun 1991 dan Kalpataru untuk katagori Pengabdi Lingkungan tahun 1992 oleh Bapak Sardi Kamituwo desa Cemoro Sewu. Jalur yang dimulai dari Cemoro Sewu (1.800 m.dpl) ini adalah yang paling sering digunakan untuk pendakian, panjangnya 6.5 km, berupa jalan makadam mulai desa sampai mendekati puncak. Di desa Cemoro Sewu ini kita mempersiapkan air untuk perjalanan naik dan turun. Kita akan melewati hutan pinus dan akasia di sisi kiri dan kanan sampai pada ketinggian lk 3.000 m dpl. Dalam pendakian ini kita akan melewati 4 buah pos pada ketinggian 2.100 m, 2.300 m, 2.500 m dan sampai di pos IV dengan ketinggian 2.800 m dpl dengan waktu 4 - 5 jam. Setelah pos IV ini pepohonan mulai rendah sampai kita harus menyusur punggungan, jalannya berupa tanah mendatar dan di sisi kanan terdapat jurang. Kurang lebih 10 menit kita akan sampai di Sendang Drajat, sebuah sumber air yang dianggap keramat oleh para peziarah. Di daerah sini biasanya juga digunakan untuk bertapa oleh orang-orang yang percaya bahwa akan mendapat "ilmu". Disini terdapat gua selebar 2 meter yang dapat kita pakai untuk bermalam. Didepan gua terdapat lubang sekitar satu meter yang kadangkala dapat ditemukan air. Jika tidak mau menginap di Sendang Drajat, kita dapat berjalan terus ke Argo Dalem, dengan melewati punggungan bukit sekitar 30 menit, kita akan menemukan pertigaan yang kekiri langsung menuju puncak Argo Dumilah ( 3.265 m dpl) sedang ke kanan menuju ke Argo Dalem (3.148m dpl). Dari pertigaan ini, untuk menuju puncak Argo Dumilah hanya membutuhkan waktu 10 menit. Alun-alun Argo Dalem merupakan hamparan padang terbuka bervegetasi perdu, memungkinkan kita untuk melihat kearah puncak maupun kelembah di bawahnya. Ada pondok utama yang biasanya menjadi tujuan peziarah yang datang, lengkap dengan barang-barang persembahannya Puncak Gunung Lawu berupa dataran yang berbukit-bukit dan terdapat titik trianggulasi. Dari arah puncak kita dapat menikmati pemandangan yang sangat menawan. Selain Matahari terbit, bila kita memandang ke arah barat, akan tampak puncak Gunung Merapi dan Merbabu, dan arah timur akan terlihat puncak Gunung Kelud, Butak dan Wilis. Gerbang Jawa Tengah: Desa Cemoro Kandang Jalur yang dimulai dari Desa Cemoro Kandang ini, panjangnya sekitar 12 km, juga paling sering digunakan untuk pendakian, karena tidak terlalu menanjak dan pemandangannya sangat indah. Diseberang gerbang pendakian terdapat warung-warung, juga bisa untuk menambah logistik, air juga harus dipersiapkan disini untuk perjalanan naik sampai turun lagi. Kita mulai perjalanan melalui hutan akasia dan pinus dengan kondisi jalan berbatu kurang lebih 1,5 jam, kita sampai pada PosI Taman Sari bawah. Kemudian kita melewati jalan tanah dari hutan cemara dan pinus selama sekitar 30 menit akan menemui Pos II Taman Sari Atas. Dari sini kita masih melewati hutan dan menyisir bukit, setelah perjalanan selama 2,5 jam kemudian kita sampai di pos III Penggik (2.760 m dpl). Dari pos penggik ini kita menuju ke Pos IV Cokrosuryo dengan melewati hutan, kemudian menyisir bukit, disebelah kiri kita adalah jurang, waktu yang dibutuhkan sekitar 1,5 jam. Jika tidak ingin menginap di Cokrosuryo kita bisa berjalan terus ke Argo Dalem dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Dalam perjalanan ke Argo Dalem kita akan menemui sebuah pos yang rusak di pertigaan yang kekanan ke Argo Dumilah dan yang lurus menuju Argo Dalem. Perlengkapan dan Tips Perjalanan Pendakian ke Gunung Lawu jika melalui Cemoro Kandang membutuhkan waktu 8-9 jam dan 5-6 untuk turun, sedang dari Cemoro Sewu dibutuhkan waktu 6-7 jam untuk pendakian dan 4-5 jam untuk turun. Pakaian yang tahan angin dan tahan air serta peralatan untuk tidur sebaiknya dibawa untuk kenyamanan perjalanan pendakian. Kalau ingin pendakian anda tidak terlalu ramai maka sebaiknya melakukan pendakian pada hari-hari biasa (senin-Jumat) Perijinan dan Pemanduan Untuk perijinan pendakian ke Gunung Lawu sampai saat ini masih belum ada keharusan ijin yang resmi dari instansi-instansi yang memangku daerah pendakian ini, dan anda cukup mendaftarkan diri ke petugas yang ada di pos pendakian Cemoro Kandang atau ke Bapak Sardi Kamituwo di desa Cemoro Sewu serta meninggalkan kartu pengenal diri. Bila anda ingin mengetahui tempat-tempat yang keramat di gunung ini, sebaiknya anda menggunakan pemandu untuk mengantar anda. Anda bisa menghubungi bapak Sardi untuk membantu kita untuk mencarikan pemandu yang mengetahui tempat-tempat keramat. Bila mengalami keadaan darurat di Gunung Lawu, kecelakaan atau rekan yang hilang, kita bisa menghubungi SAR SATKORLAK UNS Solo Jl. Urip Sumoharjo 110 Mesen Surakarta Telp. (0271) 41799, 47199. Pendakian Gunung Jawa Tengah |

Blogger templates

Blogroll

About