Pages

Jumat, 19 September 2014

Penyakit gunung

HIPOKSIA
Mendaki gunung adalah sebuah kombinasi yang harmonis dan unik sekaligus menyenangkan antara hal menyalurkan hobi berpetualang di alam bebas di satu sisi dengan olahraga dan olahrohani di sisi yang lain , walau segala penghalang kerap menjadi batu sandungan dalam kegiatan tersebut. Namun yang harus selalu kita ingat adalah banyak haling rintang, hambatan, bahaya dan resiko yang kerap mengancam keselamatan kondisi jamasni phisik dan rohani (psikis) kita.seandainya kita tidak peka, tidak cermat dan cepat tanggap dalam mengkondisikan kemampuan dan kesehatan raga dan faktor ketenangan kejiwaan kita sendiri. Dari berbagai resiko tersebut ada satu penyakit yang bisa menimpa para penggiat alam bebas pendakian gunung, yakni *HIPOKSIA* , karena pada hakikatnya Mendaki gunung tentu akan menempatkan tubuh kita akan dominan dan sering berada di atas ketinggian yang ekstrim. Berada di ketinggian tentu akan mudah memicu hipoksia karena terbatasnya oksigen.
Dari beberapa pengamatan dan data-data evaluasi pada kasus-kasus kecelakaan di gunung ada dua faktor yang sering terjadi. Pertama, efek hipoksia ( kekurangan oksigen ) pada tubuh. Kedua, efek fisik dari ketinggian dari permukaan laut, seperti suhu dan radiasi ultraviolet. Tapi, hal yang terakhir ini jarang terjadi pada pendaki gunung. Kecuali misalnya kekurangan energi ( makan yang cukup ), kedinginan, kecelakaan yang mengakibatkan benturan dan pendarahan yang hebat.
PROSES GEJALA HIPOKSIA :
Proses hipoksia timbul secara perlahan. Bahkan sering terjadi seorang pendaki gunung yang terlalu lama dalam perjalanan pendakian (ekspedisi pegunungan) , sesampainya di rumah ternyata tubuhnya tidak bisa atau sulit menerima perubahan suhu (RE-ADAPTASI) . Hipoksia yang terjadi berjalan agak lama. Tentu saja hal ini akan mengganggu proses pernapasan yang dilakukan paru - paru..
JADI MAKHLUK APAKAH HIPOKSIA ITU???
Berdasarkan sejumlah literatur kedokteran, hipoksia adalah kondisi gejala kekurangan oksigen pada jaringan tubuh yang terjadi akibat pengaruh perbedaan ketinggian. Semakin tinggi suatu tempat dari permukaan laut, kadar oksigen yang terkandung di dalam udara semakin tipis. Kerja organ tubuh terutama sistem pernafasan yang membutuhkan pasokan oksigen akan lebih banyak.
Berdasarkan beberapa penelitian medis (ilmu kedokteran) dapatlah dijelaskan bahwa sebenarnya keseimbangan tubuh manusia selalu dijaga dan diatur oleh system kardiovaskuler (system jantung) dan system pernafasan. Kondisi hipoksia terjadi jika kita mengalami kerusakan pada sistem jantung, pembuluh darah dan sistem pernafasan,
Selain berada di ketinggian, berada di ruangan tertutup tanpa sirkulasi udara yang baik, atau di ruangan yang bersirkulasi udara baik tetapi dipenuhi asap rokok juga bisa menyebabkan gangguan hipoksia.
Dalam sebuah Penelitian desertasi doktor seorang ahli penyakit dalam membuktikan bahwa kondisi hipoksia menyebabkan terjadinya luka pada lambung berupa terjadinya ulkus. Gangguan yang terjadi pada organ akibat hipoksia dijelaskan baik secara kelainan organ melalui pemeriksaan histopatologi baik secara langsung maupun pemeriksaan imunohistokimia.
Untuk itu para pendaki gunung harus mengenali tanda - tandanya, serta cara mengatasi jika mengalami kondisi tersebut. Tanda - tanda hipoksia atau kekurangan oksigen antara lain pandangan kabur, pernapasan makin cepat atau tersengal -sengal, serta tubuh menjadi lemas.
Frekuensi pernapasan yang meningkat terjadi karena tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen. Tidak hanya memaksa paru - paru bekerja lebih keras, kondisi ini juga mempengaruhi jantung yang harus bekerja keras memompa oksigen dalam darah yang hanya sedikit itu untuk didistribusikan ke seluruh tubuh.
Selain dari gejala fisik, kondisi Hipoksia juga bisa dikenali dari perubahan perilaku. Dalam kondisi hipoksia, otak juga akan kekurangan oksigen sehingga pola pikir seorang pendaki berubah menjadi kacau dan sulit membuat keputusan yang tepat.
Dalam keadaan hipoksia, yang dominan hanya emosi dan ini sangat mempengaruhi pengambilan keputusan. Makanya para pendaki sering tersesat, salah satunya karena otak tidak mendapatkan oksigen yang cukup untuk bisa bekerja dengan baik.
LEVEL (TINGKAT) KEPARAHAN HIPOKSIA :
1. HIPOKSIA FULMINAN :
Adalah sebuah kondisi saat dimana terjadi pernapasan yang sangat cepat. Paru - paru menghirup udara tanpa adanya udara bersih ( oksigen ). Sering dalam waktu satu menit akan jatuh pingsan.
2. HIPOKSIA AKUT :
Terjadi pada udara yang tertutup akibat keracunan karbon monoksida. Misalnya, seorang pendaki gunung tiba - tiba panik takkala udara belerang datang menyergap. Udara bersih tergantikan gas racun, akhirnya paru - paru tak kuasa menyedot udara bersih. Mendadak ia pingsan.
HIPOKSIA DAPAT DIHINDARI/DICEGAH DAN DITOLONG :
Hipoksia sebenarnya dapat dihindari oleh para pendaki gunung atau siapapun juga., Para pendaki gunung yang berpengalaman biasanya telah melakukan adaptasi dengan ketinggian. Namun untuk orang yang memiliki permasalahan pada pembuluh darahnya baik pada pembuluh darah otak maupun pembuluh darah jantung, hipoksia akan menyebabkan jantung akan mengalami iskemia (kekurangan oksigen) bahkan sampai terjadinya infark (kematian jaringan). Begitu pula pada orang yang sudah mempunyai permasalahan pembuluh darah otak maka kekurangan oksigen juga akan lebih memperburuk penurunan oksigen pada otak sehingga korban menjadi tidak sadar. Organ-organ lain juga jelas akan mengalami gangguan jika terjadinya hipoksia.
Pada orang-orang yang memang sudah biasa tinggal pada daerah pada ketinggian atau daerah dengan kadar oksigen rendah, biasanya tubuh sudah dapat mentoleransi (mengadaptasi). Tetapi, adaptasi ini ada batasnya dan jika kondisi ini terus terjadi tetap akan membahayakan jiwa. Salah satu contoh kasus adalah musibah yang dialami oleh almarhum WAMEN ESDM ( Prof. Dr Widjajono Partowidagdo).
Beliau tewas saat mendaki Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat pada Sabtu (21 April 2012). Penyebab pasti kematian wamen yang baru bertugas selama enam bulan itu diduga karena sesak nafas akibat kekurangan oksigen. Faktor usia Widjajono (61) juga berpengaruh kuat. Karena pada umumnya orang dengan usia lanjut maka potensi terganggunya saluran di pembuluh darah sangat tinggi. Dengan aktivitas berat dengan medan pendakian yang sering kali ekstrim saat mendaki gunung ditambah pasokan oksigen yang tipis, hipoksia dapat berakibat fatal yakni kematian.
Namun menurut diagnose dr Phaidon L Toruan, sarjana kedokteran lulusan Universitas Padjajaran Bandung, dalam blognya menulis, Widjajono yang berpengalaman mendaki gunung Fuji, Himalaya, Kilimanjaro, tentu sudah mengukur dirinya saat sebelum pendakian ke Gunung Tambora di Kabupaten Dompu Bima engan ketinggian 2.850 mdpl.
Menurut Phaidon, sesak nafas yang dialami Wamen Widjajono bisa disebabkan oleh kurangnya oksigen dan bisa juga merupakan salah satu tanda serangan jantung. Dua gejala terkait gejala serangan jantung adalah Angina (rasa nyeri seperti ditekan di bagian dada), dan Aritmia (gangguan irama jantung yang dapat menyebabkan palpitasi ataudenyut jantung yang abnormal).
Kedua kondisi ini, Angina dan aritmia terjadi karena kurangnya pasokan darah yang membawa oksigen ke otot jantung. Biasanya diikuti oleh gejala lain seperti pusing, letih yang berkepanjangan, mual, berkeringat dingin, dan sesak nafas. Gejala tersebut merupakan pertanda awal serangan jantung. Hanya saja gejala tersebut dianggap sebagai masuk angin. Terlebih, kalau ada proses pendakian di gunung yang memang cuacanya dingin. Akibatnya pertolongan pertama seringkali terlambat diberikan.
Serangan jantung menghentikan suplai oksigen ke otot jantung menyebabkan otot-otot jantung akan mati sewaktu tidak mendapatkan darah. otot jantung beda dengan otot lain yang tidak dapat mengalami regenerasi. Kalau semakin lama gejala yang menunjukkan serangan ini tidak diatasi, akan semakin banyak kerusakan permanen pada otot-otot jantung dan bahkan jika terus dibiarkan dapat mengalami kematian.
Dalam konteks kejadian yang dialami Wamen ESDM, Phaidon menyebutkan dengan usia yang mencapai 61 tahun kapasitas fisik, termasuk fungsi jantung dan paru menurun. Apalagi jika tidak diimbangi dengan gaya hidup sehat.
Pertolongan pertama ketika menghadapi kondisi ini tentu saja dengan memberikan oksigen. Tabung oksigen berukuran kecil yang bisa dibawa ke mana - mana sangat mudah diperoleh di apotek dengan harga terjangkau, sehingga tidak ada salahnya para pendaki melengkapi diri dengan alat ini.
Jika tabung oksigen belum cukup menolong, maka semua pakaian harus dilonggarkan agar pernapasan menjadi lebih lancar. Kerah baju harus dibuka, ikat pinggang dilepas dan juga bra pada perempuan mau tidak mau harus dilepas supaya saluran napasnya tidak sesak.
Namun yang terpenting dari semua itu adalah, sesegera mungkin pendaki yang mengalami hipoksia harus dibawa ke lokasi yang lebih rendah supaya mendapat oksigen lebih banyak dari udara pernapasan. Makin lama berada dalam kondisi hipoksia, makin besar resiko kerusakan organ karena tidak mendapat suplai oksigen.
Daya tahan seseorang saat berada dalam kondisi hipoksia sangat beragam, salah satunya dipengaruhi oleh kadar sel darah merah serta hemoglobin. Orang - orang yang sehari - hari tinggal di gunung secara alamiah lebih tahan terhadap hipoksia karena sel darah merahnya lebih banyak. Untuk mencegah dampak buruk dari hipoksia, para pendaki gunung yang sebelumnya mengidap penyakit jantung, pernapasan clan sirkulasi darah dianjurkan untuk tidak mencapai ketinggian yang melebihi daya tahan tubuh,
Maka sebagai penutup mari kita semua para pendaki dan penggiat alam terbuka, sebelum mendaki gunung alangkah baiknya masing-masing kita agar terlebih dahulu memeriksa kondisi kesehatan tubuh kita .

SALAM DAMAI GUNUNG-RIMBA-LAUT & ALAM SEMESTA LESTARI

0 komentar:

Posting Komentar

 

cerita dari teman

Jalur Pendakian Gunung Lawu Gunung Lawu (3.265 m) berdiri kokoh diperbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, banyak menyimpan sejuta misteri dan legenda. Dalam legenda Gunung Lawu dipercayai sebagai tempat bertapanya Raden Brawijaya atau dikenal dengan Sunan Lawu setelah mengundurkan diri dari kerajaan Majapahit, dan beliau dipercaya sebagai penguasa seluruh makhluk yang ada di Gunung Lawu. Gunung Lawu juga mempunyai kawah yang namanya sangat terkenal yakni Kawah Condrodimuko, yang dipercaya masyarakat sekitar sebagai tempat menggodok tokoh pewayangan yaitu Raden Gatutkaca, salah satu dari Pandawa Lima. Di gunung ini juga banyak tempat-tempat keramat antara lain Sendang Drajat, Argo Dalem, Argo Dumilah, Pasar Dieng, Batu Tugu "Punden Berundak", Lumbung Selayur, Telaga Kuning dan masih banyak lagi. Gunung ini juga ditumbuhi bunga Edelweis berwarna merah muda, kuning dan putih. Gunung Lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi. Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas. Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani. Desa Cemoro Sewu maupun dukuh Cemoro kandang yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer merupakan gerbang pendakian ke puncak Lawu atau lebih dikenal dengan nama Argo Dumilah, letaknya berada tidak jauh dari kota dan dilintasi oleh jalan raya tertinggi di pulau Jawa yaitu sekitar 1.878 meter dari permukaan air laut. Karena letaknya yang mudah dijangkau, Gunung Lawu ini banyak dikunjungi pendaki pada Minggu dan hari-hari libur. Bahkan pada bulan Suro (Tahun Baru menurut penanggalan Jawa), kita akan menemui bahwa mereka yang mendaki bukan saja untuk ke puncak gunung Lawu, tetapi juga banyak diantaranya adalah peziarah, pertapa dan berbagai tujuan lainnya. Kedua daerah gerbang pendakian tersebut merupakan daerah berbentuk saddle antara daerah tujuan wisata Sarangan yang terkenal dengan danaunya dan Tawangmangu dengan air terjunnya. Kedua jalur Selatan ini adalah yang paling banyak dilalui karena jalurnya mudah dan pemandangannya sangat indah. Untuk mencapai daerah ini. Dari arah Surabaya menuju Madiun diteruskan ke Magetan dengan bus, kemudian naik colt menuju Sarangan (1.286 m.dpl), dari sini kita naik colt jurusan Tawangmangu turun di Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang. Kalau dari arah Solo, kita naik bus menuju Tawangmangu (1.000 m.dpl), lalu naik colt jurusan Sarangan berhenti di Cemoro Kandang atau Cemoro Sewu. Angkutan umum/colt dari Tawangmangu ke Sarangan atau arah sebaliknya agak sulit ditemui mulai pukul 16.00 wib. Segala fasilitas umum antara lain hotel, wartel yang paling dekat adalah di daerah wisata Sarangan terletak 5 kilometer dari Cemoro Sewu atau di Tawangmangu yang juga merupakan tempat wisata. Walau demikian, kita dapat menginap dirumah-rumah penduduk. Kita juga bisa memenuhi kebutuhan logistik tambahan untuk pendakian di warung-warung yang ada di desa gerbang pendakian ini. Gerbang Jawa Timur ,lewat Desa Cemoro Sewu Desa Cemoro Sewu (1.800 m dpl) kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan merupakan gerbang pendakian dari jalur Jawa Timur adalah daerah yang sangat subur. Daerah yang dihuni 20 keluarga dengan mata pencaharian utama adalah bertani ini tampak hijau, bersih sehingga menyejukkan mata yang melihatnya. Penduduknya sangat rukun, suka gotong-royong, ramah terhadap para pendatang dan sangat peduli terhadap kebersihan lingkunganya, ini terbukti dengan didapatnya tropi Jawa Timur tahun 1991 dan Kalpataru untuk katagori Pengabdi Lingkungan tahun 1992 oleh Bapak Sardi Kamituwo desa Cemoro Sewu. Jalur yang dimulai dari Cemoro Sewu (1.800 m.dpl) ini adalah yang paling sering digunakan untuk pendakian, panjangnya 6.5 km, berupa jalan makadam mulai desa sampai mendekati puncak. Di desa Cemoro Sewu ini kita mempersiapkan air untuk perjalanan naik dan turun. Kita akan melewati hutan pinus dan akasia di sisi kiri dan kanan sampai pada ketinggian lk 3.000 m dpl. Dalam pendakian ini kita akan melewati 4 buah pos pada ketinggian 2.100 m, 2.300 m, 2.500 m dan sampai di pos IV dengan ketinggian 2.800 m dpl dengan waktu 4 - 5 jam. Setelah pos IV ini pepohonan mulai rendah sampai kita harus menyusur punggungan, jalannya berupa tanah mendatar dan di sisi kanan terdapat jurang. Kurang lebih 10 menit kita akan sampai di Sendang Drajat, sebuah sumber air yang dianggap keramat oleh para peziarah. Di daerah sini biasanya juga digunakan untuk bertapa oleh orang-orang yang percaya bahwa akan mendapat "ilmu". Disini terdapat gua selebar 2 meter yang dapat kita pakai untuk bermalam. Didepan gua terdapat lubang sekitar satu meter yang kadangkala dapat ditemukan air. Jika tidak mau menginap di Sendang Drajat, kita dapat berjalan terus ke Argo Dalem, dengan melewati punggungan bukit sekitar 30 menit, kita akan menemukan pertigaan yang kekiri langsung menuju puncak Argo Dumilah ( 3.265 m dpl) sedang ke kanan menuju ke Argo Dalem (3.148m dpl). Dari pertigaan ini, untuk menuju puncak Argo Dumilah hanya membutuhkan waktu 10 menit. Alun-alun Argo Dalem merupakan hamparan padang terbuka bervegetasi perdu, memungkinkan kita untuk melihat kearah puncak maupun kelembah di bawahnya. Ada pondok utama yang biasanya menjadi tujuan peziarah yang datang, lengkap dengan barang-barang persembahannya Puncak Gunung Lawu berupa dataran yang berbukit-bukit dan terdapat titik trianggulasi. Dari arah puncak kita dapat menikmati pemandangan yang sangat menawan. Selain Matahari terbit, bila kita memandang ke arah barat, akan tampak puncak Gunung Merapi dan Merbabu, dan arah timur akan terlihat puncak Gunung Kelud, Butak dan Wilis. Gerbang Jawa Tengah: Desa Cemoro Kandang Jalur yang dimulai dari Desa Cemoro Kandang ini, panjangnya sekitar 12 km, juga paling sering digunakan untuk pendakian, karena tidak terlalu menanjak dan pemandangannya sangat indah. Diseberang gerbang pendakian terdapat warung-warung, juga bisa untuk menambah logistik, air juga harus dipersiapkan disini untuk perjalanan naik sampai turun lagi. Kita mulai perjalanan melalui hutan akasia dan pinus dengan kondisi jalan berbatu kurang lebih 1,5 jam, kita sampai pada PosI Taman Sari bawah. Kemudian kita melewati jalan tanah dari hutan cemara dan pinus selama sekitar 30 menit akan menemui Pos II Taman Sari Atas. Dari sini kita masih melewati hutan dan menyisir bukit, setelah perjalanan selama 2,5 jam kemudian kita sampai di pos III Penggik (2.760 m dpl). Dari pos penggik ini kita menuju ke Pos IV Cokrosuryo dengan melewati hutan, kemudian menyisir bukit, disebelah kiri kita adalah jurang, waktu yang dibutuhkan sekitar 1,5 jam. Jika tidak ingin menginap di Cokrosuryo kita bisa berjalan terus ke Argo Dalem dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Dalam perjalanan ke Argo Dalem kita akan menemui sebuah pos yang rusak di pertigaan yang kekanan ke Argo Dumilah dan yang lurus menuju Argo Dalem. Perlengkapan dan Tips Perjalanan Pendakian ke Gunung Lawu jika melalui Cemoro Kandang membutuhkan waktu 8-9 jam dan 5-6 untuk turun, sedang dari Cemoro Sewu dibutuhkan waktu 6-7 jam untuk pendakian dan 4-5 jam untuk turun. Pakaian yang tahan angin dan tahan air serta peralatan untuk tidur sebaiknya dibawa untuk kenyamanan perjalanan pendakian. Kalau ingin pendakian anda tidak terlalu ramai maka sebaiknya melakukan pendakian pada hari-hari biasa (senin-Jumat) Perijinan dan Pemanduan Untuk perijinan pendakian ke Gunung Lawu sampai saat ini masih belum ada keharusan ijin yang resmi dari instansi-instansi yang memangku daerah pendakian ini, dan anda cukup mendaftarkan diri ke petugas yang ada di pos pendakian Cemoro Kandang atau ke Bapak Sardi Kamituwo di desa Cemoro Sewu serta meninggalkan kartu pengenal diri. Bila anda ingin mengetahui tempat-tempat yang keramat di gunung ini, sebaiknya anda menggunakan pemandu untuk mengantar anda. Anda bisa menghubungi bapak Sardi untuk membantu kita untuk mencarikan pemandu yang mengetahui tempat-tempat keramat. Bila mengalami keadaan darurat di Gunung Lawu, kecelakaan atau rekan yang hilang, kita bisa menghubungi SAR SATKORLAK UNS Solo Jl. Urip Sumoharjo 110 Mesen Surakarta Telp. (0271) 41799, 47199. Pendakian Gunung Jawa Tengah |

Blogger templates

Blogroll

About